Wisata Sejarah Lubang Buaya, Benarkah Membosankan?



Pintu Masuk Monumen Pancasila Sakti (Foto: Ne)

JAKARTA, NAVNews - Wisata sejarah biasanya identik dengan hal-hal yang membosankan. Terutama jika wisata tersebut berkaitan dengan museum dan peninggalan sejarah lainnya, penulis mencoba membuktikan hal tersebut dengan mendatangi salah satu tempat bersejarah di Jakarta yaitu Lubang buaya, benarkah wisata sejarah syarat akan hal-hal yang membosankan.

Penulis berangkat jam sepuluh pagi pada hari rabu tanggal 26 Desember 2018. Dengan menggunakan sepeda motor, waktu yang di tempuh kurang lebih selama satu jam dari Bekasi. (penulis tinggal di Bekasi). Harga tiket masuk ke objek wisata lubang buaya ini sangat terjangkau, delapan ribu rupiah untuk dua orang ditambah biaya parkir sebesar dua ribu rupiah.  

Ketika memasuki objek wisata ini suasana asri dan rapih menyambut kedatangan kami. Terlihat ada beberapa bis wisata yang mengantarkan rombongan pelajar sekolah berada di parkiran dan jumlah mereka lumayan banyak. Bisa dikatakan kehadiran rombongan bis sekolah ini membuat objek wisata lubang buaya tidak terlalu sepi pengunjung.

Monumen Pancasila Sakti (Foto: Ne)
Dibatasi oleh pagar yang lumayan tinggi, terlihat bangunan bersejarah serta museum yang cukup terawat berdiri megah menyambut para pengunjung termasuk kami. Bisa dikatakan tempat ini lumayan luas untuk menampung banyak pengunjung. Dari pintu masuk utama, belok ke kiri untuk dapat melihat objek wisata utama lubang buaya, dibangun monumen pancasila sakti untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur di lubang tersebut. Sebagian besar pengunjung yang datang mengabadikan dirinya dengan berfoto di monumen ini.   

Selepas dari sana pengunjung bisa memasuki museum “penghianatan PKI” yang berada di komplek area wisata tersebut, museum ini menjelaskan tentang sejarah kekejaman PKI di zaman itu yang berbentuk diorama-diorama. Terdapat satu ruang yang menarik perhatian penulis, ruang itu di namakan “baju darah” berisikan sisa-sisa pakaian berlumur darah para tokoh yang gugur di lubang tersebut.

Penulis juga sempat bebincang-bincang dengan beberapa pengunjung disana, salah satunya Ibu Fitri. Ia bersama suami dan rombongan keluarga memilih tempat ini karena selain dekat dari tempat tinggalnya di daerah Cijantung beliau juga ingin anaknya mendapatkan edukasi dari tempat wisata ini. Ibu Fitri pun berharap akan bertambahnya fasilitas dan pengelolaan yang lebih baik di objek wisata lubang buaya, seperti kereta wara-wiri yang memudahkan para lansia agar tidak lelah dalam berjalan serta ditambah tulisan yang menerangkan objek-objek di tempat wisata tersebut dengan baik, dan memang sepenglihatan penulis hal tersebut sangat kurang dijumpai.

Adapun Bapak Nana mengomentari hal yang sama, ia bersama Anak dan Istri menghabiskan waktu liburan bersama keluarga di tempat bersejarah ini untuk mengetahui berbagai sejarah tentang TNI dan Komunis. beliau pun sependapat dengan penulis akan ketertarikannya dengan ruangan “baju darah”. Namun menurut beliau objek wisata di sini kurang dirawat keberadaannya, seperti toiletnya yang tidak terurus, petugas dalam menjelaskannya kurang, dan banyak objek wisata yang berdebu, beliau pun menyarankan agar lebih di perbaiki lagi fasilitasnya biar bisa lebih bagus, “inikan sejarah harus dirawat” pungkasnya.

Halaman Depan Area Lubang Buaya (foto: An
Penulis merasakan hal yang cukup menyentuh hati di tempat wisata ini. Membayangkan dan ikut merasakan bagaimana para tokoh yang gugur dalam bertugas serta melihat klise sejarah kekejaman yang dilakukan oleh PKI. Memang tidak dipungkiri objek wisata tentang sejarah seperti ini sepi peminat, mengingat objek-objek yang ada itu sedikit dan cenderung membosankan. Tetapi bila kita ingin hal baru sekaligus menambah ilmu dalam berwisata. cobalah datang ke tempat-tempat bersejarah dengan sanak keluarga maupun orang-orang tersayang, sehingga kehangatan dan keharmonisan dalam berwisata dapat terjalin bersama.
  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembaruan Lantai Satu Gedung Universitas Sahid Jakarta, Dari Estetika Hingga Fungsi Nyata